Sabtu, 29 September 2012

TUGAS 1 BAHASA INDONESIA


Sinopsis dari Novel “Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur”

Novel ini memuat protes pada realitas sosial yang sarat pada kemunafikan. Pada novel ini diceritakan pergulatan seorang mahasiswi dan aktivitis jemaah Islam dengan idealisme tinggi, Nidah Kirani, yang digambarkan sebagai muslimah yang taat, tubuhnya tertutup jubah dan jilbab besar. Hampir semua waktunya dihabiskan untuk shalat, membaca Al Quran, dan berzikir.
Namun, di tengah perjalanannya ia mengalami kekecewaan yang mendalam, karena ia menemukan kemunafikan yang luar biasa dalam pertemuannya dengan berbagai orang yang selama ini mengatasnamakan agama, akhlak, dan idealisme. Nidah merasa dibodohi karena tidak tahu program dan arah gerak jemaah. Pemikiran jemaah dinilainya sebagai dogma-dogma yang tak masuk akal. Bagi Nidah, dogmatisme jamaah telah memberangus nalar kritis sekaligus keimanannya. Alhasil, musnah sudah obsesinya untuk berislam secara kaffah melalui Jamaah.
Kesadarannya memberontak sehingga Nidah melarikan diri dari jemaah dan mencoba hidup baru yang bebas. Pada suatu saat, Nidah bertemu seorang aktivis mahasiswa berhaluan kiri, kolega lama yang pernah menjadi teman diskusinya di kampus tempat ia menimba ilmu. Ia bertutur keluh, juga kekecewaannya terhadap jamaah, hingga keputusannya untuk melarikan diri yang penuh resiko. Perasaan kecewa terhadap jamaah itu sedikit terobati dengan hadirnya sosok aktivis mahasiswa sosialis itu.
Selang beberapa hari berlindung di naungan aktivis kiri itu, harkat dan martabatnya sebagai perempuan suci mulai ternodai. Sejak saat itu, diatas segala kecewa yang melandanya, dia mulai berontak pada "Tuhan"nya dengan caranya. Mulai mencoba merokok, mencicipi narkoba, sampai akhirnya berpetualang pada satu pria ke pria lainnya.
Hal ini yang menjungkir balikkan lagi keyakinan dan kepercayaannya. Karena ternyata tampang lahiriah tidak menjamin watak asli seseorang, terbukti dengan semua pria yang telah menidurinya adalah orang yang jika dipandang mata adalah orang-orang terhormat. Dalam suasana hati yang luluh lantak, kepercayaannya pada laki-laki, perkawinan, dan cinta pun menjadi nihil. Dan dengan perasaan marah, kecewa, dia berusaha untuk bangkit dan tak mau kalah. Dan pada akhirnya, ia melakukan perenungan, dan sampailah ia pada suatu kemantapan untuk menjadi seorang pelacur, sebagai upaya untuk memaknai eksistensi dirinya, sekaligus untuk menunjukkan bahwa menjadi pelacur berarti menguasai dan menundukkan laki-laki, bukan dikuasai dan ditundukkan laki-laki seperti halnya dalam sebuah lembaga pernikahan.



Sumber :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar